Saturday, January 29, 2011

Siapa Yang Menanam, Dia Yang akan Menuai



Siapa Yang Menanam, Dia Yang akan Menuai

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


Segala puji itu hanyalah milik Allah. Dialah zat yang telah menyempurnakan
nikmat-Nya untuk kita dan secara berturut-turut memberikan berbagai
pemberian dan anugerah kepada kita.


Semoga Allah menyanjung dan memberi keselamatan untuk Nabi kita Muhammad,
keluarganya yang merupakan manusia pilihan dan semua sahabatnya yang
merupakan manusia-manusia yang bertakwa seiring silih bergantinya malam dan siang.


Kita pasti pernah mendengar peribahasa ini,
"Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai."
Maksudnya, jika seseorang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula.
Dan jika seseorang menanam kejelekan, maka ia akan menuai hasil yang jelek pula.
Berikut beberapa contoh dalam Al Quran dan hadits yang menceritakan maksud dari peribahasa ini.


1. Menjaga Hak Allah, Menuai Penjagaan Allah


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengajarkan pada Ibnu Abbas
-radhiyallahu anhuma- sebuah kalimat,

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ


"Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu."
[1]

Yang dimaksud menjaga Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan,
hak-hak, perintah, dan  larangan-larangan Allah. Yaitu seseorang menjaganya
dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak
melampaui batas dari batasan-Nya (berupa perintah maupun larangan Allah).
Orang yang melakukan seperti ini, merekalah yang menjaga diri dari
batasan-batasan Allah. Yang utama  untuk dijaga adalah shalat lima waktu
yang wajib. Dan yang patut dijaga lagi adalah pendengaran, penglihatan dan
lisan dari berbagai keharaman. Begitu pula yang mesti dijaga adalah
kemaluan, yaitu  meletakkannya pada yang halal saja dan bukan melalui jalan
haram yaitu zina.[2]


Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan,
maka ia akan mendapatkan dua penjagaan.


Penjagaan pertama: Allah akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan
mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.


Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan,
"Barangsiapa menjaga (hak-hak) Allah,
maka Allah akan menjaganya dari berbagai gangguan."

Sebagian salafmengatakan,
"Barangsiapa bertakwa pada Allah, maka Allah akan menjaga
dirinya. Barangsiapa lalai dari takwa kepada Allah, maka Allah tidak ambil
peduli padanya. Orang itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri.
Allah sama sekali tidak butuh padanya."


Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku
yang aneh pada keluarganya bahkan pada hewan tunggangannya. Sebagaimana
sebagian salaf mengatakan,
"Jika aku bermaksiat pada Allah, maka pasti aku
akan menemui tingkah laku yang aneh pada budakku bahkan juga pada hewan
tungganganku."
[3]

Penjagaan kedua: Penjagaan yang lebih dari penjagaan pertama, yaitu Allah
akan menjaga agama dan keimanannya. Allah akan menjaga dirinya dari
pemikiran rancu yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang
diharamkan.[4]


Semoga dengan menjaga hak-hak Allah, kita semua bisa menuai dua penjagaan
ini.


2. Berlaku Jujur, Menuai Kebaikan


Dari sahabat Abdullah bin Masud, ia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ
الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ
وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا
وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ
الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ
وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا


"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan
dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga.
Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia
akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.
Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan
dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka.
Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan
dicatat di sisi Allah sebagai pendusta."
[5]

Terkhusus lagi, beliau memerintahkan kejujuran ini pada pedagang karena
memang kebiasaan para pedagang adalah melakukan penipuan dan menempuh
segala cara demi melariskan barang dagangan.


Dari Rifaah, ia mengatakan bahwa ia pernah keluar bersama Nabi shallallahu
alaihi wa sallam ke tanah lapang dan melihat manusia sedang melakukan
transaksi jual beli. Beliau lalu menyeru,
"Wahai para pedagang!"
Orang-orang pun memperhatikan seruan Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam sambil menengadahkan leher dan pandangan mereka pada beliau. Lantas
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ
اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ


"Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti
sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada
Allah, berbuat baik dan berlaku jujur."
[6]

Berlaku jujur juga akan menuai berbagai keberkahan. Yang dimaksud
keberkahan adalah tetapnya dan bertambahnya kebaikan.
Dari sahabat Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا  أَوْ قَالَ حَتَّى
يَتَفَرَّقَا  فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ,
وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا


"Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar)
selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling
terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi
tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi,
niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu."
[7]

Inilah buah yang dipetik dari pedagang yang tidak berlaku jujur. Sedangkan
sebaliknya jika pedagang bisa berlaku jujur, maka ia pun akan menuai
berbagai kebaikan dan keberkahan.


3. Mudah Memaafkan dan Tawadhu, Menuai Kemuliaan


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ رَجُلاً بِعَفْوٍ
إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ


"Sedekah tidak mungkin mengurangi harta. Tidaklah seseorang suka memaafkan,
melainkan ia akan semakin mulia. Tidaklah seseorang bersikap tawadhu
(rendah diri) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya."
[8]

Seseorang yang selalu memaafkan akan semakin mulia dan bertambah
kemuliaannya. Ia juga akan mendapatkan balasan dan kemuliaan di akhirat.
Begitu pula orang yang tawadhu (rendah diri) karena Allah, ia akan
ditinggikan derajatnya di dunia, Allah akan senantiasa meneguhkan hatinya
dan meninggikan derajatnya di sisi manusia, serta kedudukannya pun akan
semakin mulia. Di akhirat pun, Allah akan meninggikan derajatnya karena
ketawadhuannya di dunia.[9]


4. Berperilaku Baik, Menjadi Teman Akrab


Allah Taala berfirman,
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ
أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ
حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا
إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)


"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan
cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada
permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat
yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar
dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai
keuntungan yang besar."
(QS. Fushilat: 34-35)

Sahabat yg mulia, Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma- mengatakan, Allah
memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat
marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan
ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah
akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya.
Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah
laku baik semacam ini.


Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, Namun yang mampu melakukan seperti ini
adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti
kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.[10]


5. Menolong dan Memudahkan Sesama, Menuai Pertolongan dan Kemudahan dari Allah


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ
عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى
مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ
مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ
الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ


"Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia,
Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat.
Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit,
Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat.
Barangsiapa menutup 'aib seseorang, Allah pun akan menutupi 'aibnya di dunia dan akhirat.
Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya."
[11]

Di antara bentuk pertolongan di sini adalah seseorang memberikan kemudahan
dalam masalah utang. Ini bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama,
memberikan tenggang waktu pelunasan dari tempo yang diberikan, ini hukumnya
wajib. Karena Allah Taala berfirman,
وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ


"Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh
sampai dia berkelapangan."
(QS. Al Baqarah: 280). Cara kedua, dengan
memutihkan hutang tersebut, dan ini dianjurkan. Sebagaimana Allah Taala
berfirman,
وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ


"Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika
kamu mengetahui."
(QS. Al Baqarah: 280)

Berkebalikan dari sikap baik ini adalah mengenakan riba pada saudaranya
yang menunda utang. Ini adalah berkebalikan dari memberi kemudahan. Maka
tentu saja orang yang memberi kesulitan pada saudaranya akan menuai hasil
yang sebaliknya.


6. Usaha disertai Tawakkal akan Menuai Hasil


Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu 'anhu berkata
bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ
كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ , تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً


"Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan
memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung
tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya
dalam keadaan kenyang."
[12]
Burung ini melakukan usaha dan bertawakkal pada Allah,
akhirnya ia pun kenyang ketika pulang di sore hari.
Ini berarti tanpa usaha, tidak akan memperoleh hasil apa-apa. Dan usaha tanpa tawakkal,
hanya akan memperoleh sekadar yang Allah takdirkan. Yang tepat adalah usaha
disertai tawakkal, niscaya hasil memuaskan yang akan dituai.


7. Berbuat Curang, Menuai Berbagai Musibah


Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ

وَشِدَّةِ الْمَؤُنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ


"Dan tidaklah mereka berbuat curang ketika menakar dan menimbangm melainkan
mereka akan ditimpa kekeringan, mahalnya biaya hidup dan kelaliman para
penguasa."
[13]

Dan sebab curang dalam perniagaaan inilah sebab dibinasakannya kaum Madyan,
umat Nabi Syuaib alaihis salam. Allah Taala memerintahkan pada kaum Madyan,

أَوْفُوا الْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُخْسِرِينَ (181) وَزِنُوا
بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ (182) وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ
وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (183
)


"Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang
merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu
merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka
bumi dengan membuat kerusakan."
(QS. Asy Syuara: 181-183)

Jadi ingatlah, setiap yang kita tanam -baik kebaikan maupun kejelekan-,
pasti kita akan menuai hasilnya. Oleh karenanya, bersemangatlah dalam
menanam kebaikan dan janganlah pernah mau menanam kejelekan.
Para ulama seringkali mengutarakan,

"Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.
Sedangkan balasan dari kejelekan adalah kejelekan setelahnya."
[14]

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi
sempurna.


Referensi:


- Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf AnNawawi, Dar Ihya At Turots Al Arobiy, Beirut, cetakan kedua, 1392.
- Jaamiul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Darul Muayyid, cetakan      pertama, tahun 1424 H.
- Tafsir Al Quran Al Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.


Disempurnakan pada siang hari, 16 Muharram 1431 H di Panggang-Gunung Kidul.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Majalah Pengusaha Muslim, dipublish ulang oleh www.muslim.or.id


Foot note :

[1] HR. Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad 1/303. Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa hadits ini shahih.


[2] Lihat Jaamiul Ulum wal Hikam, hal. 223-224.


[3] Lihat Jaamiul Ulum wal Hikam, hal. 225-226.


[4] Faedah dari Jaamiul Ulum wal Hikam, hal. 224-226.


[5] HR. Muslim no. 2607.


[6] HR. Tirmidzi no. 1210 dan Ibnu Majah no. 2146. Syaikh Al Albani dalam
Shahih At Targhib 1785 mengatakan bahwa hadits tersebut shahih lighoirihi
(shahih dilihat dari jalur lainnya).


[7] HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532.


[8] HR. Muslim no. 2588, dari Abu Hurairah.


[9] Al Minhaj Syarh Muslim, 16/141-142.


[10] Lihat Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, 12/243.


[11] HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah


[12] HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al
Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310.


[13] HR. Ibnu Majah no. 4019. Syaikh Al Albani mengatkan bahwa hadits ini
hasan.


[14] Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, 14/372 [Tafsir Surat Al Lail ayat 7]


http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/siapa-yang-menanam-dia-yang-akan-menuai.html

MUTIARA KATA

السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
 MUTIARA KATA

„""Ilmu itu lebih baik dari pada Harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga Harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu berkurang apabila di belanjakan tapi ilmu bertambah bila di beljakan. ""  [Ali bin Abi Talib ra]
 „""Jauhilah berteman dengan pembohong karena ia bisa menjadikan orang yang dekat akan lari darimu dan sebaliknya. Janganlah berkawan dengan orag yang bakhil karena ia akan melupakanmu di waktu kamu sangat memerlukannya dan jauhilah bersahabat dengan orang yang suka berbuat jahat karena ia tidak malu untuk menjualmu dengan harga yang sangat murah.""  [.  Ali bin Abi Talib ra]
 „''' Jangan engkau percaya melihat kegagahan seseorang lelaki. Tetapi jika mereka teguh memegang amanah dan menahan tangannya dari pada menganiayai sesamanya. Itulah lelaki yang sebenarnya. """  [Khalifah Umar al-Khattab ra]
 „""" Hanya lidah yang mau berdusta dan berbohong. Namun pandangan mata, hayunan kedua belah tangan, langkah kedua belah kaki dan pergerakan tubuh, atau seluruh anggota badan akan menafikan apa yang di ucapkan oleh lidah „"""                   .      [Khalifah Umar al-Khattab ra]
 „"""Apabilah kamu merasa letih karena berbuat kebaikan maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan yang akan terus kekal. Dan sekiranya kamu bersenang – senang dengan dosa maka sesungguhnya kesenengan itu akan hilang dan dosa yang di lakukan akan terus kekal. "" [Ali bin Abi Talib ra]
 „""" Islam memiliki dinding dan pintu yang kuat. Dinding Islam ialah kebenaran dan pintunya ialah keadilan. Islam akan tetap jaya, selama penguasa – penguasa bersikap keras dan tegas tetapi itu di lakukan tidak berarti mesti dengan pedang dan cemeti, melainkan dengan hak dan keadilan. """ [Said bin Suwaid]
 """Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
     Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
     Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
     Tidak ada kebaikan bagi sedekah kecuali niat yang Ikhlas. „""     [Al-Ahnaf bin Qais]

„""" Hiduplah sesuka hatimu, sesungguhnya kamu pasti mati. Cinta siapa saja yang kamu senangi, sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengan nya. Lakukan apa saja yang kamu kehendaki, sesungguhnya kamu akan memperoleh balasannya.Dan ingatlah bahwa bersama kesulitan itu senantiasa akan timbul kesenangan. „"" [Ibnu Abbas]
 „""" Hendaklah engkau bergaul dengan para ulama, dan dengarlah (renunglah) kata – kata hukama, karena Allah SWT menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana ia suburkan bumi dengan hujam yang lebat.  [Al-Hukama' ]
 „""" Ada empat hal yang dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang tertinggi walaupun amal dan ibadahnya sedikit, yaitu sifat- sifat penyantun, merendah diri,pemurah dan budi pekerti yang baik. Itulah kesempurnaan Iman. „""" [Abul Qasim Al- Junaid]
Semoga mermanfaat dan bisa mengambil apa yang terbaik buat perjalanan kita.
 
semoga bermanfaat

Cerita, "Penjual Ikan"

Cerita, "Penjual Ikan"


Seseorang mulai berjualan ikan segar dipasar. Ia memasang papan pengumuman bertuliskan "Disini Jual Ikan Segar"

Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya. "Mengapa kau tuliskan kata :DISINI ? Bukankah semua orang sudah tau kalau kau berjualan DISINI , bukan DISANA?"


"Benar juga!" pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata "DISINI" dan tinggallah tulisan "JUAL IKAN SEGAR".


Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang juga menanyakan tulisannya.


"Mengapa kau pakai kata SEGAR ? bukankah semua orang sudah tau kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?"


"Benar juga" pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata "SEGAR" dantinggallah tulisan "JUAL IKAN"


Sesaat kemudian datanglah pengunjung ke tiga yang juga menanyakantulisannya : "Mengapa kau tulis kata JUAL? Bukankah semua orang sudah tau kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan?"


Benar juga pikir si penjual ikan,, lalu dihapusnya kata JUAL dan tinggalahtulisan "IKAN"


Selang beberapa waktu kemudian, datang pengunjung ke 4, yang juga menanyakan tulisannya : "Mengapa kau tulis kata IKAN?, bukankah semua orang sudah tau kalau ini Ikan bukan Daging?"


"Benar juga" pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu.


(Author Unknown)


Sahabat, Bila kita ingin memuaskan semua orang, maka yakinlah itu hal yang mustahil.... atau bahkan kita malah justru merugikan diri sendiri


Sudah menjadi fitrah manusia untuk berbeda pendapat. Terbukti perumahan mungil2 yang dulunya sama semua, dalam hitungan tahun sudah menjadi beda semua...


Jadi utamakan suara hati anda... biarlah orang lain berpendapat..., tapi saringlah, cerna kembali pendapat mereka... apakah sesuai dengan kata hati anda?... jika tidak, maka tegaslah tuk mengatakan... "Tidak!... maaf" :)

Keutamaan Sholat

Keutamaan Sholat


Syaqiq Balkhi, seorang syeikh dan ahli shufi yang terkenal berkata, "kita akan mendapatkan lima hal melalui lima cara, yaitu :

  1. Keberkahan rezeki melalui sholat dhuha.
  2. Cahaya di dalam kubur melalui sholat tahajud.
  3. Kemudahan menjawab pertanyaan munkar dan nakir melalui bacaan al Qur'an.
  4. Kemudahan melintas titian shirath melalui puasa dan sedekah.
  5. Naungan Arsy Ilahi melalui dzikrulloh dalam keadaan sendirian.
Di dalam berbagai kitab hadits banyak sekali hadits yang menegaskan pentingnya sholat serta keutamaannya, sehingga sulit dan terlalu banyak jika dituliskan keseluruhan. Berikut adalah beberapa terjemahan hadits dari beberapa hadits Rosululloh saw :
  1. Perintah pertama yang diturunkan Alloh swt kepada umatku adalah sholat, dan yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah sholat.
  2. Takutlah kepada Alloh mengenai sholat ! Takutlah kepada Alloh mengenai sholat ! Takutlah kepada Alloh mengenai sholat !
  3. Pembatas antara seseorang dengan syirik adalah sholat.
  4. Ciri seorang muslim adalah sholat. Seseorang yang mengerjakan sholatnya dengan hati yang khusyu, menjaga waktu-waktunya dan memperhatikan sunnah-sunnahnya, maka dia adalah seorang yang beriman.
  5. Alloh swt tidak mewajibkan sesuatu yang lebih utama daripada iman dan sholat. Seandainya ada sesuatu kewajiban yang lebih utama daripada itu niscaya Alloh swt akan memerintahkan para malaikatNya yang sebagian dari mereka senantiasa ruku' dan sebagian lagi terus menerus sujud.
  6. Sholat adalah tiang agama.
  7. Sholat menghitamkan mulut syetan.
  8. Sholat adalah cahaya bagi orang yang beriman.
  9. Sholat adalah jihad yang paling utama.
  10. Selagi seseorang menjaga sholatnya, maka Alloh swt mencurahkan seluruh perhatianNya, tetapi jika ia melalaikan sholatnya, maka perhatian Alloh akan terlepas.
  11. Apabila suatu musibah turun dari langit, maka orang-orang yang memakmurkan masjid akan terhindar darinya.
  12. Apabila seseorang masuk ke dalam neraka jahannam disebabkan dosa-dosanya, maka api neraka tidak akan membakar anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud.
  13. Alloh swt mengharamkan api neraka bagi anggota tubuh yag digunakan untuk bersujud.
  14. Amal yang paling disukai Alloh swt adalah sholat tepat pada waktunya.
  15. Keadaan manusia yang paling disukai Alloh swt adalah ketika dalam keadaan sujud, yaitu keningnya menyentuh tanah.
  16. Sedekat-dekat seseorang kepada Alloh adalah ketika dia berada dalam keadaan sujud.
  17. Sholat adalah anak kunci pintu surga.
  18. Apabila seseorang berdiri untuk melaksanakan sholat, maka pintu-pintu surga akan terbuka. Lalu tersingkaplah tabir antara Alloh swt dengan orang yang sholat itu selama dia tidak sibuk dngan batuk, dan sebagainya (yaitu perkara-perkara yag dibenci dalam sholat)
  19. Seseorang yang sedang melaksanakan sholat berarti mengetuk pintu yang maha kuasa, sebagaimana orang mengetuk pintu, maka pasti akan dibukakan baginya.
  20. Kedudukan sholat dalam agama adalah seperti kepala pada badan.
Itulah keutamaan sholat yang harus kita perhatikan baik-baik. Mulai sekarang marilah bersama-sama meningkatkan kualitas sholat kita, menambah kuantitas sholat sunnah kita, dan memperbaiki cara sholat kita agar kualitas sholat kita semakin meningkat… Sudahkah anda catat baik-baik dalam benak Anda…? Bagaimana komentar Anda…? Tergugahkah hati Anda? (Fadhail A'mal)

Kenapa yang tidak solat ini dikatakan sombong?

Hitungan Matematika. Kenapa Yang Nggak Shalat 5 Waktu Itu Sangat Sombong ke Tuhan


Hitungan Matematika, kenapa orang tidak sholat itu sombong kepada Allah:
Di umpamakan jika kita hidup 60 tahun lamanya, Insya Allah. Di dalam 60 tahun, kita hidup sekitar 31,536,000 menit.
Hitungannya: 60 menit x 24(jam) x 365(hari) x 60(tahun) = 31,536,000 menit


Untuk Shalat 5 waktu sampai kita umur 60 tahun, kita perlu:
5 menit x 5 (waktu) x 365(hari) x 49(tahun) = 447,125 menit


Kenapa dikali 49? karena kita diwajibkan sembahyang pada saat umur 12tahun. Jadi 60 tahun - 11 tahun = 49 Tahun


447,125 dibagi 31,536,000 dikali 100=1.4 %


KITA CUMA DIBUTUHKAN 1.4 % DARI HIDUP KITA UNTUK MENGIKUTI PERINTAH SEMBAHYANG KEPADANYA. Jadi sebenernya kita itu sombong sekali kalo tidak sembahyang 5 waktu.

DAKWAH PENGIKUT NABI YANG HAKIKI

 DAKWAH PENGIKUT NABI YANG HAKIKI

Tauhid adalah inti dakwah para Rasul, dari Rasul yang pertama sampai rasul yang terakhir. Alloh berfirman, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh saja, dan jauhilah Thaghut’.” (An Nahl: 36)
Kaum muslimin sekalian, mereka tidaklah mendakwahi ummatnya dengan menekankan perbaikan ekonomi terlebih dahulu, tidaklah pula dengan merebut kekuasaan para penguasa yang zhalim terlebih dahulu dan mendirikan daulah islamiyah. Padahal kita semua tahu bahwa para rasul tersebut diutus di tengah-tengah masyarakat yang penguasanya amat zholim. Namun pokok dakwah mereka adalah perbaikan akidah ummat dan membersihkannya dari segenap kotoran syirik.

Kewajiban Berdakwah Sebagaimana Dakwah Nabi
Alloh Ta’ala berfirman, “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108). Dari ayat yang mulia ini, kita tahu bahwa pengikut Rosululloh yang hakiki adalah mereka yang berdakwah sebagaimana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam berdakwah. Tidaklah hal pertama dan utama yang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam dakwahkan kecuali tauhid, maka penyeru yang sejati ialah mereka yang menyerukan kepada tauhid. Sedangkan orang-orang yang menyimpang dari jalan ini disinyalir oleh Alloh Azza wa Jalla dalam firmanNya: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153)
Tauhid Adalah Poros Perbaikan Ummat
Kaum muslimin sekalian, dakwah perbaikan ummat manusia yang diserukan oleh para Rasul itu adalah dakwah Tauhid, memerangi syirik, yang mana kesyirikan adalah suatu kemungkaran dan kezhaliman yang paling besar di muka bumi ini. Dan tauhid yang diserukan oleh para nabi dan Rasul adalah Tauhid Uluhiyah, yaitu mentauhidkan/mengesakan Alloh dalam ibadah, artinya memurnikan dan memperuntukkan ibadah hanyalah untuk Alloh semata, bukan untuk yang selain Alloh. Di sinilah letak dimana mereka paling banyak ditentang dan diingkari oleh kaumnya. Alloh Azza wa Jalla berfirman: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)
Dakwah Tauhid Adalah Dakwah Rinci
Dakwah tauhid bukan dakwah global yang hanya menyeru: ‘Mari bertauhid!’, akan tetapi dakwah yang mulia ini juga memerinci manakah yang termasuk tauhid dan manakah yang termasuk syirik. Sehingga dengan tertanamnya hal ini pada masyarakat kaum muslimin maka tujuan penciptaan manusia dan jin dapat terwujud.
Alloh Ta’ala telah berfirman: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)
Maka dengan demikian wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari tauhid yang merupakan awal yang harus dia tuntut kemudian direalisasikan dalam ibadahannya. Dan juga mempelajari tentang syirik yang merupakan lawan dari tauhid dan macam-macam syirik untuk dijauhi dan agar tidak terjerumus ke dalam kesyirikan. Karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa’: 48)
Manakala tauhid merupakan pokok keselamatan dunia dan akhirat sekaligus hal pertama kali yang harus dipelajari oleh manusia, maka tauhidlah yang mestinya disampaikan dan didakwahkan kepada manusia pertama kali. Selain itu dakwah tauhid juga harus dijadikan sebagai proiritas utama sebagaiman dakwah para Rasul Alloh yang diutus untuk ummatnya dan juga apa yang telah telah Alloh perintahkan. Alloh Azza wa Jalla berfirman: “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)
Kuantitas Pengikut Bukanlah Barometer Keberhasilan Dakwah
Sidang pembaca sekalian, kita lihat dari siroh rosul bahwa Rosululloh Muhammad shollallohu ‘alaihi wassalam ketika berdakwah selama tiga belas tahun lamanya hanya menyerukan tauhid kepada bangsa Arab, khususnya kaum Quraisy di Mekkah. Rentang waktu ini begitu sangat panjang dilihat dari masa kenabian beliau. Perjalanan dakwah beliau inipun diiringi dengan rintangan yang luar biasa besar. Siksaan kaum Quraisy terhadap para pengikut beliau sangat gencar, sementara kaum muslimin pada waktu itu masih berjumlah sedikit dan tidak punya daya kekuatan untuk melawannya.
Dakwah ini memang membutuhkan waktu yang panjang dan lama untuk memetik hasilnya, tapi justru hal itulah yang dituntunkan oleh syari’at Islam. Kita tidak akan ditanya oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak: Berapa jumlah pengikut yang berhasil kita rekrut? tetapi yang akan ditanyakan adalah: Sudahkah kita menyampaikannya kepada manusia sebagaimana diperintahkan? Sama saja bagi kita, apakah mendapat pengikut ataukah tidak, selama dakwah kita sesuai dengan tuntunan sesuai syariat maka itulah wujud keberhasilan dakwah yang sebenarnya.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ketika mi’raj, Alloh menunjukkan kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wassalam para nabi dan rasul sebelum beliau beserta pengikutnya. Ada nabi yang hanya memiliki beberapa orang pengikut, dan bahkan ada yang tidak mempunyai seorang pengikut pun. Dan tatkala kita menengok sejarah nabi Nuh, berapa lama beliau berdakwah? Yaitu selama sembilan ratus lima puluh tahun. Berapakah jumlah pengikut beliau yang berhasil didakwahi yang akhirnya ikut dalam bahtera dan diselamatkan dari adzab Alloh? Tidaklah banyak, hanya sedikit jumlahnya. Mereka para rasul adalah orang-orang yang sukses dalam berdakwah, walaupun jika dilihat dari jumlah pengikut amatlah sedikit.
Lihatlah sejarah perjalanan panjang dakwahnya para nabi dan Rasul, jika kita menelusuri jejak para nabi niscaya kita dapatkan cobaaan kita lebih kecil dibandingkan ujian yang diperoleh oleh para nabi dan Rasul tersebut berupa penentangan dan pengingkaran dari kaumnya, belum lagi kesabaran yang luarbiasa yang mereka miliki untuk mendakwahkan tauhid di tengah-tengah kerusakan ummatnya.
Karena itulah nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wassalam ketika mengutus utusan beliau untuk berdakwah ke daerah lain, selalu mewasiatkan agar tauhidlah yang pertama kali mesti didakwahkan, sebagaimana sabda beliau kepada Mu’adz bin Jabal ketika akan diutus ke negeri Yaman untuk berdakwah, beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kamu akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kamu serukan kepada mereka adalah (agar mereka) bersaksi bahwasanya tiada Tuhan yang berhak untuk disembah melainkan Alloh.” (Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Imam Muslim), dan dalam satu riwayat dari Imam Al-Bukhari [dengan lafazh]: Agar mereka mentauhidkan Alloh (dalam beribadah kepadaNya). Wallohu a’lam.
***
Penulis: Shalih Abu Muhammad

Perang Thaif [Tahun 9 H]

                                                  Perang Thaif [Tahun 9 H]

Ketika orang-orang Tsaqif yang kalah tiba di Thaif, mereka menutup pintu-pintu kotanya dan membuat sejumlah persiapan untuk perang. Urwah bin Mas’ud dan Ghailan bin Salamah tidak ikut hadir di Perang Hunain dan pengepungan Thaif, karena keduanya berada di Jurasy sedang bertugas mempelajari pembuatan dabbabah*, minjaniq**, dan dhabur***”.
“Setelah perang Hunain reda, Rasulullah berangkat ke Thaif. Ketika beliau memutuskan berangkat ke Thaif, Ka’ab bin Malik RA berkata,
‘Kami lumat seluruh keraguan dari Tihamah dan Khaibar
Kemudian kami mengistirahatkan pedang-pedang kami dari perang
Kami berbicara dengan pedang-pedang kami
Jika pedang-pedang kami dapat berbicara, ia pasti berbicara
Aku bukan wanita menyusui anak jika kalian tidak pernah melihatnya
Ada beribu-ribu orang dari kami di halaman kalian
Kami cabut atap rumah di Wajj
Hingga rumah-rumah kalian menjadi kosong tanpa kalian
“Rasulullah berjalan melewati Nakhlah Al-Yamaniyah, Qarn, Al-Mulaih, dan Bahrah Ar-Rugha’ dari Liyyah****. Di sana, Rasulullah membangun masjid dan mengerjakan shalat di dalamnya”.
Kemudian Rasulullah berjalan melewati jalan Adh-Dhaiqah. Ketika Rasulullah berjalan ke arah jalan tersebut, beliau bertanya tentang nama jalan tersebut, “Apa nama jalan ini?”. Dikatakan kepada beliau, “Jalan ini bernama Adh-Dhaiqah”. Rasulullah bersabda, “Aku ganti jalan ini menjadi Al-Yusra”.
Setelah itu, Rasulullah keluar dari jalan Adh-Dhaiqah (Al-Yusra) melewati Nakhab dan berhenti di pohon bernama Ash-Shadirah yang dekat dengan kebun salah seorang dari Tsaqif. Rasulullah pergi menemui pemilik kebun tersebut dan berkata kepadanya, “Engkau harus pergi dari sini. Jika tidak, kami akan menghancurkan kebunmu”. Orang dari Tsaqif tersebut menolak keluar dari kebunnya, kemudian Rasulullah memerintahkan penghancuran kebun orang Tsaqif tersebut.
Setelah itu, Rasulullah meneruskan perjalanan hingga tiba di daerah dekat Thaif dan di sana beliau bermarkas. Tapi, di tempat tersebut beberapa orang dari sahabat Rasulullah terkena lemparan anak panah, karena markas beliau berdekatan dengan tembok Thaif, jadi tidak heran kalau anak panah mengenai kaum muslimin dan mereka tidak dapat memasuki tembok orang-orang Thaif karena orang-orang Thaif menutup temboknya. Ketika beberapa sahabat terkena serangan anak panah, Rasulullah memindahkan markasnya ke masjid beliau yang ada di Thaif sekarang (waktu penulisan buku ini), kemudian beliau mengepung orang-orang Thaif dua puluh malam lebih”.
“Ketika Rasulullah ditemani dua orang istrinya, salah satunya ialah Ummu Salamah binti Abu Umaiyyah. Untuk itu, dua kubah untuk keduanya dipasang dan Rasulullah mengerjakan shalat di antara kedua kubah tersebut. Ketika orang-orang Tsaqif masuk Islam, Amr bin Umaiyyah bin Wahb bin Muattib bin Malik membangun masjid di tempat shalat Rasulullah tersebut. Di masjid tersebut terdapat sebuah tiang yang jika matahari terbit dan sinarnya mengenainya, maka terdengar suara. Rasulullah mengepung orang-orang Thaif, memerangi mereka dengan dahsyat, dan terjadi saling lempar anak panah pada kedua belah pihak”.*****
“Hingga pada pertempuran syadkhah di samping tembok Thaif, beberapa sahabat Rasulullah masuk di bawah dabbabah, kemudian de-ngan dabbabah tersebut, mereka mendekat ke tembok orang-orang Thaif untuk melubanginya. Ketika itulah, orang-orang Tsaqif melepaskan paku besi yang menyala-nyala ke arah kaum muslimin, kemudian kaum muslimin keluar dari bawah paku besi tersebut. Pada saat yang sama, orang-orang Thaif menyerang kaum muslimin dengan anak panah, hingga banyak sekali jatuh korban dari mereka. Kemudian Rasulullah memerintahkan kaum muslimin menebang pohon-pohon anggur milik orang-orang Tsaqif lalu kaum muslimin pergi ke pohon-pohon anggur tersebut untuk menebangnya.
Disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar ketika beliau mengepung orang-orang Tsaqif, “Hai Abu Bakar, aku bermimpi dihadiahi gelas besar dari kayu yang penuh dengan mentega, kemudian gelas besar dari kayu tersebut dilubangi ayam jago, lalu ayam jago tersebut menumpahkan mentega tersebut”. Abu Bakar berkata, “Aku pikir engkau tidak dapat mengalahkan mereka pada hari ini seperti engkau inginkan”. Rasulullah bersabda, “Tapi aku tidak berpendapat seperti itu”.
Khuwailah binti Hakim As-Sulami, istri Utsman bin Madz’un berkata, “Wahai Rasulullah, jika Allah menaklukkan Thaif untukmu, berikan kepadaku perhiasan Badiyah binti Ghailan bin Salamah atau perhiasan Al-Fari’ah binti Aqil”. Khuwailah berkata seperti itu, karena kedua wanita tersebut adalah wanita Tsaqif yang paling banyak perhiasannya. Disebutkan kepadaku bahwa ketika Rasulullah bersabda kepada Khu-wailah binti Hakim, “Bagaimana kalau aku tidak diberi izin terhadap orang-orang Tsaqif, wahai Khuwailah?” Khuwailah binti Hakim keluar dari hadapan Rasulullah kemudian menceritakan ucapan Rasulullah tersebut kepada Umar bin Khaththab, lalu Umar bin Khaththab masuk menemui Rasulullah dan berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, ucapan apa yang telah engkau katakan kepada Khuwailah karena ia bercerita bahwa engkau mengatakan sesuatu?”. Rasulullah bersabda, “Ya, aku telah berkata seperti itu”. Umar bin Khaththab berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau aku memberimu izin terhadap mereka?”. Rasulullah bersabda, “Tidak”. Umar bin Khaththab berkata, “Bagaimana kalau aku mengumumkan kepada orang-orang agar mereka pergi?” Rasulullah bersabda, “Ya, silakan”.
Umar bin Khaththab pun mengumumkan kepada orang-orang agar mereka pergi. Ketika orang-orang telah berangkat, tiba-tiba Sa’id bin Ubaid bin Usaid bin Abu Amr bin Ilaj berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya rombongan tidak pergi”. Uyainah bin Hishn berkata, “Demi Allah, ini sebuah kemuliaan”. Salah seorang dari kaum muslimin berkata kepada Uyainah bin Hishn, “Semoga Allah mematikanmu, hai Uyainah, pantaskah engkau memuji orang-orang musyrikin karena penghadangan mereka terhadap Rasulullah, padahal engkau datang ke sini untuk menolong beliau?”. Uyainah bin Hishn berkata, “Demi Allah, aku datang ke sini tidak untuk memerangi orang-orang Tsaqif bersama kalian, namun aku ingin Muhammad dapat membuka Thaif, kemudian aku mendapatkan salah seorang gadis Tsaqif, kemudian aku menggaulinya dengan harapan gadis tersebut melahirkan anak laki-laki untukku, karena Tsaqif itu kaum yang cerdas”.
Beberapa budak di antara orang-orang yang terkepung di Thaif menemui Rasulullah untuk masuk Islam, kemudian beliau memerdekakan mereka”.
“Ketika orang-orang Thaif masuk Islam, beberapa orang dari mereka membicarakan tentang budak-budak tersebut, kemudian Rasulullah bersabda, “Tidak, mereka adalah orang-orang yang dimerdekakan oleh Allah”. Di antara orang yang membicarakan tentang budak-budak tersebut adalah Al-Harits bin Kaladah”.
Jumlah total sahabat Rasulullah yang gugur sebagai syuhada di Perang Thaif ialah dua belas orang; tujuh orang dari Quraisy, empat orang dari kaum Anshar, dan satu orang dari Bani Laits”.
“Ketika Rasulullah meninggalkan Thaif setelah menyerang dan mengepungnya, Bujair bin Zuhair bin Abu Salma bersyair mengenang Perang Hunain dan Perang Thaif,
‘Di pertempuran di Hunain
Di pagi hari di Lembah Authas dan perang di Gunung Al-Abraq
Kabilah Hawazin menyesatkan pasukannya dengan mengumpulkan mereka
Kemudian mereka bercerai berai seperti burung yang terkoyak-koyak
Tidak ada satu tempat pun yang melindungi mereka dari kami
Melainkan tembok mereka dan parit
Sungguh kami maju ke tempat mereka agar mereka keluar
Tapi mereka berlindung diri dari kami di pintu yang terkunci rapat
Pasukan kami yang tidak bertameng kembali ke pasukan besar
Yang putih dan berkemilau memancarkan kematian
Pasukan tersebut bersatu dan berwarna hijau
jika pasukan tersebut diarahkan ke benteng
Pasti benteng tersebut hancur lebur rata dengan tanah
Pasukan tersebut berjalan dengan sembunyi-sembunyi di atas tumbuhan Al-Hiras
Kami tak ubahnya seperti kuda yang meletakkan kakinya ke tempat tangannya jika berjalan
Dengan baju besi yang menutup seluruh tubuh yang jika dipakai sebagai alat pelindung
Maka baju besi tersebut seperti aliran sungai dimana angin berhembus padanya
Baju besi tersebut paling baik yang sisa-sisanya menyentuh sandal kami
baju besi tersebut dibuat oleh Daud dan keluarga Muharriq******’.”

CATATAN KAKI
* Dabbaabah adalah salah satu alat perang berupa kendaraan yang dinaiki oleh seorang personil lalu ia merangkak dengan kendaraan itu mendekati benteng musuh.
** Minjaniq adalah salah satu alat untuk mengurung dan mengepung musuh, sejenis alat pelempar batu besar.
*** Dhabur bentuknya seperti tempurung penyu, digunakan untuk melindungi diri ketika berpaling.
**** Qarn, Mulaih dan Bahrah Raghaa' dan Liyyah adalah nama-nama tempat di Thaif.
***** Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa Rasulullah melempar mereka dengan manjaniq. Seseorang yang dapat kupercaya telah menceritakan kepadaku bahwa lemparan manjaniq pertama dalam Islam adalah saat membombardir pasukan Thaif
****** Keluarga Muharriq adalah keluarga Amru bin Hindun, ra

Friday, January 28, 2011

AKU TAKKAN LUPAKAN ILMU

AKU TAKKAN LUPAKAN ILMU

Oleh : Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc


akutaklupaMerupakan nikmat dan anugerah yang besar bagi seorang muslim dapat berjalan di atas kebenaran, mencari ridha Allah dan menggapai surgaNya kelak. Dalam perjalanan seorang muslim, tak jarang dirinya lupa sehingga perlu diingatkan, kadang juga ia lalai sehingga membutuhkan teguran, belum lagi apabila ia keliru sehingga ia mencari pelita yang dapat meluruskan langkah dan arahnya. Berikut ini penulis mengajak dirinya dan ikhwah sekalian untuk merenungi lagi ayat-ayat Allah, hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bimbingan pemahaman Salafus Shalih. Menyegarkan kembali ingatan kita bersama tentang kemuliaan ibadah melalui thalabul ilmi, agar semangat tak menjadi surut, terlebih di hadapan berbagai ujian dan cobaan kehidupan duniawi. Semoga dapat bermanfaat khususnya bagi diri penulis dan bagi seluruh pembaca, amin….


Saudaraku…, Islam menjelaskan kedudukan yang tinggi nan mulia tentang keutamaan ilmu, banyak ayat dan hadits serta perkataan dan kisah teladan para ulama salaf yang menunjukkan hal ini, diantaranya adalah :
  • Menggapai kemuliaan dengan ilmu syar`i
Allah berfirman : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat {footnote}Qs Al-Mujadilah : 11{/footnote}
Ath-Thabari berkata, "Allah mengangkat derajat orang beriman yang berilmu di hadapan orang beriman yang tidak berilmu karena keutamaan ilmu mereka (jika mereka mengamalkan ilmu tersebut. pent).{footnote}Tafsir Ath-Thabari ; Qs Al-Mujadilah : 11{/footnote}
Asy-Syaukani berkata, "yaitu derajat yang tinggi dengan kemuliaan di dunia dan pahala di akherat"{footnote}Tafsir Asy-Syaukani ; Qs Al-Mujadilah : 11{/footnote}
Suatu hari Nafi` bin Abdul Harits mendatangi Amirul Mukminin (Umar bin Khattab) di daerah `Usfan (saat itu Umar tengah mempercayakan kepemimpinan Mekah kepada Nafi`); Umar bertanya, "Siapa yang engkau jadikan penggantimu -sementara waktu- bagi penduduk Mekah?", Nafi` menjawab "Ibnu Abza", Umar bertanya, "Siapa Ibnu Abza?", Nafi` menjawab, "Seorang budak", Umar, "Engkau telah memberikan kepercayaan kepada seorang budak?!", Nafi`, "Sesungguhnya ia hafizh Al-Qur`an dan berilmu tentang faraidh (yakni hukum-hukum islam)". Kemudian Umar berkata, "Sungguh Nabi kalian telah berkata: "Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebagian manusia dengan Al-Qur`an dan merendahkan sebagian yang lain karenanya."”{footnote}Shahih Muslim: 817{/footnote}
Ibrahim Al-Harbi berkata "Seseorang bernama `Atha bin Abi Rabah adalah budak berkulit hitam milik seorang wanita penduduk Mekah. Hidung `Atha pesek seperti kacang (sangat kecil). Suatu hari Sulaiman bin Abdul Malik sang Amirul Mukminin bersama kedua anaknya mendatangi `Atha yang sedang shalat, setelah selesai dari shalatnya ia menyambut mereka. Masih saja mereka asyik bertanya kepada `Atha tentang manasik haji kemudian Sulaiman berkata kepada kedua anaknya "wahai anak-anakku, jangan kalian lalai dari menuntut ilmu, sungguh aku tidak akan lupa telah berada di hadapan seorang budak hitam (yang berilmu ini)". Dalam kisah yang lain Ibrahim Al-Harbi berkata "Muhammad bin Abdurrahman Al-Auqash adalah seorang yang lehernya sangat pendek sampai masuk ke badannya sehingga kedua bahunya menonjol keluar. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang ibunya berpesan "wahai anakku, sungguh kelak setiap kali engkau berada di sebuah majelis engkau akan selalu ditertawakan dan direndahkan, maka hendaklah engkau menuntut ilmu karena ilmu akan mengangkat derajatmu". Ternyata (ia mematuhi pesan ibunya. pent) sehingga suatu saat dipercaya menjadi Hakim Agung di Mekah selama dua puluh tahun".{footnote}Lihat Tarikh Baghdad 2 : 309, Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah 1 : 501-502{/footnote}
Al-Muzani berkata, "Aku pernah mendengar Imam Syafi`i berkata: "Barangsiapa mempelajari Al-Qur`an maka akan mulia kehormatannya, barangsiapa mendalami ilmu fikih maka akan agung kedudukannya, barangsiapa mempelajari bahasa (arab) maka akan lembut tabiatnya, barangsiapa mempelajari ilmu berhitung maka akan tajam nalarnya dan banyak idenya, barangsiapa banyak menulis hadits maka akan kuat hujjahnya, barangsiapa yang tidak menjaga dirinya maka tidak akan bermanfaat ilmunya".{footnote}Diriwayatkan dari Imam Syafi`i dari beberapa jalan, lihat Miftah Daris Sa`adah 1 : 503{/footnote}
  • Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa menempuh sebuah jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkannya jalannya menuju surga".{footnote}HR. Muslim no : 2699 dari Abi Hurairah{/footnote}
Beliau juga bersabda "Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali".{footnote}HR Tirmidzi no : 2323, Ibnu Majah no : 4112 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no : 186 dari Anas{/footnote}
  • Dengan menuntut ilmu segala pintu kebaikan dan maghfirah serta pahala akan dilimpahkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka ia akan diberikan kepahaman tentang agama."{footnote}HR Bukhari 1 : 150-151, 6 : 152, dan Muslim 1037 dari Mu`awiyah{/footnote}
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, "Apabila anak cucu Adam meninggal dunia maka terputus semua amalannya kecuali dari tiga hal : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shalih yang mendoakannnya"{footnote}HR Muslim 1631 dari Abi Hurairah{/footnote}
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda "…dan sesungguhnya para Malaikat akan merendahkan sayap-sayap mereka bagi penuntut ilmu sebagai tanda ridha terhadap yang dilakukannya, Sungguh seorang yang berilmu akan dimintakan ampun baginya oleh semua yang ada di langit dan bumi sampaipun ikan di lautan, keutamaan seorang yang berilmu atas seorang ahli ibadah bagaikan keistimewaan bulan di hadapan seluruh bintang-bintang. Para ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang dapat mengambilnya sungguh ia telah meraih bagian yang banyak"{footnote}HR Abu Daud no : 3641-2, At-Tirmidzi no : 2683, Ibnu Majah no : 223, dishahihkan Ibnu Hibban no : 80{/footnote}
Ilmu ini adalah anugerah, mari kita bersama menjaganya dengan baik. Mengikhlaskan hati mensucikan niat agar Allah menambahnya serta melimpahkan berkah di dalamnya, وقل رب زدني علما "dan katakan, Wahai Rabb tambakanlah bagiku ilmu"{footnote}QS Thoha : ayat 114{/footnote}. Jangan sampai kemurniannya terkotori dengan bisikan ambisi materi atau buaian kemewahan duniawi. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan kita dengan sebuah haditsnya "Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharapkan wajah Allah, namun ternyata ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan satu tujuan dunia, maka ia tidak akan mencium wanginya surga pada hari kiamat".{footnote}HR Abu Daud no : 3664 dengan sanad yang shahih, Ibnu Majah no : 252, Ibnu Hibban no : 89, dll{/footnote}
Para ulama salaf menjelaskan bahwa di antara kiat menjaga kenikmatan mulia ini adalah dengan :
  1. Selalu bersemangat dalam menuntut ilmu dan tidak merasa bosan; Imam Syafi`i berkata, "Tidaklah berhasil menuntut ilmu (dengan baik) bagi seorang yang mencarinya dengan cepat merasa bosan seakan tidak membutuhkannya, akan tetapi seorang akan berhasil menuntut ilmu jika melakukannya dengan perjuangan dan susah payah, penuh semangat dan hidup prihatin".{footnote}Hilayatul Auliya karya Abu Nu`aim; 9 : 119, Al-Madkhal karya Al-Baihaqi; no : 513, Tadribur Rawi karya As-Suyuthi; 2 : 584{/footnote}
Dalam Diwannya beliau juga membawakan syair

أخي لن تنال العلم إلا بستـتة # سأنبيك عن تفصيلها ببيان # ذكاء وحرص واجتهاد وبلغة # وصحبة أستاذ وطول زمان

Wahai saudaraku…, engkau takan mendapatkan ilmu melainkan dengan (memperhatikan) enam hal…
Aku akan menyebutkannya dengan penjelasan… kecerdasan, semangat, kesungguh-sungguhan, biaya materi… petunjuk Ustadz, dan waktu yang panjang….{footnote}Diwan Asy-Syafi`i hal : … {/footnote}
2. Mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan; Amr bin Qays berkata, "Jika sampai kepadamu suatu ilmu maka amalkanlah meskipun hanya sekali… "{footnote}Hilayatul Auliya karya Abu Nu`aim 5 : 102{/footnote}, Imam Waki` berkata, "Jika engkau hendak menghafal satu ilmu (hadits) maka amalkanlah!"{footnote}Tadribur Rawi karya As-Suyuthi 2 : 588{/footnote}, Imam Ahmad berkata, "Tidaklah aku menulis suatu hadits melainkan aku telah mengamalkannya, sehingga suatu ketika aku mendengar hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hijamah (bekam) dan memeberikan upah kepada ahli bekam (Abu Thaybah) satu dinar, maka aku melakukan hijamah dan memberikan kepada ahli bekam satu dinar pula"{footnote}Ibnul Jauzi menyebutkannya dalam Manaqib Ahmad, hal : 232{/footnote}
  • Senantiasa mengingat dan mengulang-ulang ilmu;
Ali bin Abi Thalib berkata, "Ingat-ingatlah (ilmu) hadits, sungguh jika kalian tidak melakukannya maka ilmu akan hilang."{footnote}Al-Muhadditsul Fashil karya Ar-Ramahurmuzi hal : 545{/footnote}, Ibnu Abas berkata "Mengulang-ulang ilmu di sebagian malam lebih aku cintai daripada menghidupkan malam (dengan ibadah){footnote}Sunan Ad-Darimi; 1 : 82 dan 149{/footnote} , Az-Zuhri berkata, "Gangguan ilmu adalah lupa dan sedikitnya muraja`ah (mengulang-ulang)."{footnote}Sunan Ad-Darimi; 1 : 150{/footnote}

Saudaraku…, kita perlu mengingat kembali sebuah hadits yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggambarkan bagaimana Allah akan mencabut ilmu dari kehidupan dunia ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan merenggutnya dari para manusia, namun mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang alim maka manusia akan menjadikan para pembesar mereka dari kalangan orang-orang bodoh, yang ditanya (tentang agama) lantas orang-orang bodoh itu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan"{footnote}HR Al-Bukhari : 1 : 174-175, Muslim no : 2673, At-Tirmidzi 2652{/footnote}.
Dalam hadits yang lain beliau bersabda, "Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, kebodohan semakin banyak merebak, zina menjadi nampak (dimana-mana), khamr diminum, kaum pria menjadi sedikit dan kaum wanita menjadi lebih banyak…."{footnote}Shahih dengan beberapa jalannya, Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam Sahih : kitab "nikah" dari hadits Hafsh bin Umar dan kitab "ilmu", demikian pula halnya Muslim dalam shahihnya : 4 : 256, dan selain mereka.{/footnote}.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, "Sungguh keberadaan agama Islam dan keberlangsungan dunia ini adalah dengan keberadaan ilmu agama, dengan hilangnya ilmu akan rusaklah dunia dan agama. Maka kokohnya agama dan dunia hanyalah dengan kekokohan ilmu."{footnote}Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah : 1 : 500{/footnote}
Al-Auza`i berkata : Ibnu Syihab Az-Zuhri menyatakan, "Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan, sementara ilmu diangkat dengan cepat. Kekokohan ilmu adalah keteguhan bagi agama dan dunia, hilangnya ilmu adalah kehancuran bagi itu semua."{footnote}Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud 817, dan Ibnu `Abdil Bar dalam Al-Jami` : 1018{/footnote}

Saudaraku…., yakinlah bahwa di antara kunci kebahagiaan dunia dan akherat adalah dengan menuntut ilmu syar`i, itulah yang akan menumbuhkan khasyyah dan sikap takut kepada Allah, merasa diawasi sehingga waspada terhadap semua ancaman Allah. Semua itu tidaklah didapatkan kecuali dengan ilmu syar`i, Allah berfirman, "Sesungguhnya hanyalah para ulama yang memiliki khasyyah kepada Allah"{footnote}QS. Fathir : 28{/footnote}
Ath-Thabari berkata "Sesungguhnya yang takut kepada Allah, menjaga diri dari adzab dengan menjalankan ketaatan kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu, mereka mengetahui bahwa Allah Maha Mampu melakukan segala sesuatu, maka mereka menghindar dari kemaksiatan yang akan menyebabkan murka dan adzab Allah…"{footnote}Lihat Tafsir Ath-Thabari QS Fathir ; ayat : 28{/footnote}.
Abdullah bin Mas`ud dan Masruq berkata, "Cukuplah ilmu untuk dapat membuat takut kepada Allah, dan cukuplah kebodohan yang menyebabkan seorang lalai tentang Allah". Al-Baghawi menyebutkan bahwa seseorang memanggil dan berkata kepada Sya`bi, “wahai "alim" berfatwalah”, Sya`bi menjawab, "Sesungguhnya seorang "alim" adalah yang memiliki khasyyah kepada Allah"{footnote}Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud hal : 15, dan Ahmad dalam Az-Zuhud hal : 858 dan Lihat Tafsir Al-Baghawi QS Fathir ; ayat : 28{/footnote}.
Syaikh As-Sa`di berkata dalam tafsirnya (yaitu tafsir dari Surat Al-Faaathir ayat 28, ed), "Ayat ini adalah dalil keutamaan ilmu, karena ilmu akan menumbuhkan sikap khasyyah (takut) kepada Allah, orang yang takut kepada Allah adalah orang yang akan mendapatkan kemuliaan Allah sebagaimana firmanNya "Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah, itu hanya bagi orang-orang yang memiliki khasyyah kepadaNya"{footnote}Lihat Tafsir As-Sa`di QS Fathir ; ayat : 28{/footnote}.
Dengan ilmu kita dapat menumbuhkan sikap khasyyah kepada Allah dan itulah muraqabah yang akan membimbing langkah-langkah kita menuju ridha Allah. Sufyan berkata, "Barangsiapa yang berharap (kebahagiaan) dunia dan akherat hendaklah ia menuntut ilmu syar`i". An-Nadhr bin Syumail berkata, "Barangsiapa yang ingin dimuliakan di dunia dan akherat hendaklah ia menuntut ilmu syar`i, dan cukuplah menjadi kebahagiaan bagi dirinya jika ia dipercaya dalam perkara agama Allah, serta menjadi perantara antara seorang hamba dengan Allah"{footnote}Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1 : 503-504{/footnote}.
Mu`adz bin Jabal berkata, "Pelajarilah ilmu syar`i karena mempelajarinya di jalan Allah adalah khasyyah, memperdalamnya adalah ibadah, mengulang-ulangnya adalah tasbih (memuji Allah), membahas (permasalahan-permasalahannya) adalah jihad, mengajarkannya kepada yang belum mengetahuinya adalah shadaqah, dengan ilmulah Allah diketahui dan disembah, dengannya Allah diesakan dalam tauhid, dan dengannya pula diketahui yang halal dan yang haram …"{footnote}Hilayatul Auliya karya Abu Nu`aim 1 : 239, Al-Ajmi` oleh Ibnu `Abdil Bar 1 : 65{/footnote}.
Seorang penyair berkata :
Ilmu adalah harta dan tabungan yang tak akan habis… Sebaik-baik teman yang bersahabat adalah ilmu…
Terkadang seseorang mengumpulkan harta kemudian kehilangannya… Tidak seberapa namun meninggalkan kehinaan dan perseteruan… Adapun penuntut ilmu, ia selalu membuat iri (ghibthah) banyak orang…   namun dirinya tidak pernah merasa takut akan kehilangannya… Wahai para penuntut ilmu, betapa berharga hartamu itu… yang tak dapat dibandingkan dengan emas ataupun mutiara….{footnote}Diterjemahkan dari Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1 : 507{/footnote}.
Karenanya, Luqman berwasiat kepada putranya, "Wahai anakku, duduklah bersama para ulama, dekatilah mereka dengan kedua lututmu, sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati yang mati dengan pelita "hikmah" sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang gersang dengan air hujan".{footnote}Riwayat Imam Malik dalam Al-Muwaththa` 2 : 1002 (Cet. Daarul Kutubil `Imiyyah){/footnote} Hikmah yang beliau maksud adalah yang Allah sebutkan dalam firmanNya (QS Al-Baqarah : 269) yang artinya, "Allah menganugerahkan "hikmah" kepada yang Allah kehendaki, barangsiapa telah diberikan hikmah maka ia telah diberikan banyak kebaikan…". Qutaibah dan Jumhur ulama berkata "hikmah adalah mengetahui yang haq{footnote}Syaikh Ali Hasan berkata "dan hikmah adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dan tidaklah mungkin hal ini dilakukan melainkan dengan ilmu" (Lihat, Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1 : 227){/footnote} dengan sebenarnya serta mengamalkannya, itulah ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih".{footnote}Miftah Daris sa`adah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: 1 : 227{/footnote}
Imam Ahmad berkata, "Manusia lebih membutuhkan ilmu dibandingkan makan dan minum, karena makanan dan minuman dibutuhkan manusia satu atau dua kali dalam satu hari, akan tetapi ilmu senantiasa dibutuhkan seorang manusia setiap saat (selama nafasnya berhembus)"{footnote}Thabaqat Al-Hanabilah; 1 : 146{/footnote}…

Saudaraku…., belum terlambat… dan tidak ada kata "malu"; `Aisyah berkata, "Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum Anshar, mereka tidak terhalangi oleh rasa malu untuk mempelajari semua perkara agama ini". Mujahid juga berkata, "Tidaklah dapat menuntut ilmu seorang pemalu atau yang sombong, yang ini terhalangi dari menuntut ilmu oleh rasa malunya, sementara yang itu terhalangi oleh kesombongannya"{footnote}Al-Bukhari menyebutkannya secar mu`allaq dalam shahihnya 1 : 229{/footnote}.
Mari bersama-sama kita membangkitkan semangat menuntut ilmu syar`i agar dengannya kita mendapatkan pelita nan bercahaya, menerangi setiap amalan hidup kita, membimbing setiap pola pikir dan langkah kita, memperbaiki setiap niat hati kita, membuat kita senantiasa takut karena merasa diawasi oleh Allah. Jika ilmu itu telah sampai maka jangan kita melupakannya dan mari kita berlomba untuk mengamalkannya, Ali bin Abi Thalib berkata, "Ilmu membisikkan pemiliknya untuk diamalkan, jika ia menjawab panggilan bisikan itu maka ilmu akan tetap ada, namun jika ia tidak menjawab panggilan itu maka ilmu akan pergi".{footnote}Iqtidhaul `ilmil amal karya Al-Khathib: hal 41{/footnote}
Semoga Allah melimpahkan taufiqNya kepada kita untuk ikhlas dalam menuntut ilmu, beramal dan berdakwah di jalanNya. Ya Allah…., jadikanlah kami hamba-hambaMu yang mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia serta akherat dengan ilmu, amin...

Seputar Perjanjian al-Hudaibiyah (Akhir Tahun 6 H)

Seputar Perjanjian al-Hudaibiyah (Akhir Tahun 6 H)



  • “Kemudian Rasulullah menetap di Madinah selama bulan Ramadhan dan Syawal. Pada bulan Dzulqa’dah, beliau keluar dari Madinah untuk berumrah dan tidak menginginkan perang.*
  • “Rasulullah mengajak orang-orang Arab dan orang-orang Badui yang ada di sekitar beliau untuk pergi bersama beliau, karena khawatir orang-orang Quraisy memerangi atau melarang beliau mengunjungi Baitullah. Banyak sekali orang-orang Badui yang menolak ajakan beliau. Kendati begitu, beliau tetap berangkat bersama para sahabat dari kaum Muhajirin, para sahabat dari kaum Anshar, dan orang-orang Arab lainnya. Beliau membawa hewan sembelihan (onta)** dan berpakaian ihram untuk umrah agar manusia merasa aman dan mengetahui beliau keluar untuk mengunjungi Baitullah dan mengagungkannya”.
  • “Rasulullah berjalan dan ketika tiba di ‘Usfan (sebuah tempat lebih kurang dua marhalah sebelum masuk kota Makkah), beliau bertemu Bisyr bin Sufyan al-Ka’bi.
  • “Bisyr bin Sufyan berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang Quraisy mendengar keberangkatanmu, untuk itu, mereka keluar dengan membawa unta-unta betina yang baru melahirkan anaknya yang teteknya penuh dengan susu lalu berhenti di Dzu Thuwa (Nama sebuah tempat dekat Makkah) Mereka bersumpah kepada Allah bahwa engkau tidak boleh masuk ke tempat mereka untuk selama-lamanya. Inilah Khalid bin Walid dengan pasukan berkudanya, mereka mengutusnya ke Kuraul Ghamim’***. Rasulullah SAW bersabda, ‘Celakalah orang-orang Quraisy, sungguh mereka telah dikuasai nafsu berperang. Apa salahnya kalau mereka tidak menghalang-halangiku berhubungan dengan orang-orang Arab. Jika orang-orang Arab tersebut mengalahkanku, itulah yang mereka harapkan. Jika Allah memenangkanku atas mereka, maka mereka masuk Islam. Jika mereka tidak masuk Islam, mereka berperang, toh mereka mempunyai kekuatan. Demi Allah, orang-orang Quraisy jangan salah sangka, sesungguhnya aku tidak pernah berhenti memperjuangkan apa yang aku bawa dari Allah hingga Dia memenangkannya atau aku mati karenanya’. Beliau bersabda lagi, ‘Siapa yang bisa berjalan dengan kita di jalan lain yang tidak mereka lalui?”.
  • Sesorang dari Bani Aslam berkata, ‘Aku, wahai Rasulullah’. Orang tersebut berjalan bersama kaum muslimin melewati jalan yang penuh dengan pohon hingga sulit dilalui di antara jalan-jalan menuju gunung. Ketika mereka keluar dari jalan tersebut dalam keadaan lelah dan tiba di tanah datar di ujung lembah, Rasulullah bersabda, ‘Katakanlah, ‘Kami meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya’. Mereka mengucapkan perkataan tersebut. Rasulullah bersabda lagi, ‘Demi Allah, itulah perkatan yang dulu ditawarkan kepada Bani Israel, namun mereka tidak mau mengucapkannya’.****”
  • “Maka Rasulullah memberi instruksi kepada kaum muslimin dengan bersabda, ‘Hendaklah kalian mengambil jalan arah kanan melewati Al-Hamdhu, jalan yang tembus ke Tsaniyyatul Mirar, tempat pemberhentian di al-Hudaibiyah, dari arah bawah Makkah.
  • Rombongan pun berjalan melewati jalan tersebut. Ketika pasukan berkuda Quraisy melihat kepulan debu dari jalan yang berlainan dengan jalan mereka yang mereka lalui, mereka pulang kepada orang-orang Quraisy. Di sisi lain, Rasulullah terus berjalan dan ketika berjalan di Tsaniyyatul Mirar, tiba-tiba unta beliau berhenti dan orang-orang pun berkata, ‘Unta ini mogok jalan’. Rasulullah bersabda, ‘Unta ini tidak mogok jalan dan itu bukan tabiatnya, namun ia ditahan oleh Allah yang menahan gajah dari Makkah (pasukan Abrahah). Jika hari ini orang-orang Quraisy mengajakku menyambung hubungan kekerabatan, aku menyetujuinya’. Beliau bersabda lagi, ‘Berhentilah kalian’. Salah seorang sahabat berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, di lembah ini tidak ada mata air. Jadi, kita tidak usah berhenti di sini’.
  • Rasulullah mengeluarkan panah dari tabung panah dan memberikannya kepada salah seorang dari para sahabat, kemudian ia turun dengan panah tersebut ke salah satu sumur di tempat tersebut dan memasukkan panah ke dalamnya. Air pun keluar hingga tanah di sekitar sumur menjadi basah”.
  • “Ketika Rasulullah tengah beristirahat, beliau didatangi Budail bin Warqa’ Al-Khuzai bersama beberapa orang dari Khuza’ah. Mereka berbicara dan menanyakan alasan kedatangan beliau ke Makkah. Beliau menjelaskan kepada mereka bahwa beliau datang tidak untuk perang, namun untuk mengunjungi Baitullah dan mengagungkannya. Setelah itu, beliau bersabda kepada mereka seperti yang beliau sabdakan kepada Bisyr bin Sufyan. Usai mendapatkan penjelasan beliau, Budail bin Warqa’ Al-Khuzai dan anak buahnya pulang ke tempat orang-orang Quraisy dan berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kalian terlalu cepat bertindak terhadap Muhammad. Sesungguhnya Muhammad datang tidak untuk perang, namun untuk mengunjungi Baitullah. Maka curigailah dan tolaklah mereka dengan kata-kata kasar’. Orang-orang Quraisy berkata, ‘Jika ia datang untuk tujuan tersebut dan tidak untuk perang, maka demi Allah ia tidak boleh masuk ke tempat kita dengan kekerasan untuk selama-lamanya dan ia tidak boleh mengungkit-ungkit perang kepada kita’.”
  • “Orang-orang Khuza'ah; baik yang muslim atau yang musyrik adalah kolega dekat Rasulullah yang tidak merahasiakan apa saja yang terjadi di Makkah terhadap beliau. Mereka mengutus Mikraz bin Hafsh bin Al-Akhyaf saudara Bani Amir bin Luai kepada Rasulullah. Ketika beliau melihat kedatangannya, beliau bersabda, ‘Orang ini pengkhianat’. Ketika Makraz bin Hafsh tiba di tempat beliau dan berbicara dengan beliau, maka beliau bersabda kepadanya seperti yang beliau sabdakan kepada Budail bin Warqa’ dan teman-temannya. Setelah itu, Makraz bin Hafsh pulang kepada orang-orang Quraisy dan menceritakan kepada mereka apa yang disabdakan Rasulullah”.
  • “Orang-orang Quraisy mengutus Al-Hulais bin Alqamah atau bin Zabban kepada Rasulullah. Ketika itu, Al-Hulais bin Alqamah adalah pemimpin orang-orang Ahabisy dan warga Bani Al-Harits bin Abdu Manat bin Kinanah. Ketika Rasulullah melihat kedatangannya, beliau bersabda, ‘Orang ini berasal dari kaum yang beribadah, oleh karena itu, tempatkan hewan sembelihan (onta) di depannya agar ia bisa melihatnya’. Ketika al-Hulais bin ‘Alqamah melihat hewan sembelihan (onta) berdatangan kepadanya dari samping lembah dengan memakai kalung sebagai tanda akan disembelih dan bulu-bulunya telah rusak karena terlalu lama berada di tempat ia akan disembelih, ia segera pulang kepada orang-orang Quraisy dan tidak jadi bertemu dengan Rasulullah karena hormat kepada beliau. Ia ceritakan apa yang dilihatnya kepada orang-orang Quraisy, kemudian orang-orang Quraisy berkata kepadanya, ‘Duduklah engkau, karena engkau orang Arab dusun yang bodoh’.”
  • Al-Hulais bin Alqamah marah karena perkataan orang-orang Quraisy. Ia berkata, ‘Hai orang-orang Quraisy, demi Allah, kami bersekutu dan mengikat perjanjian dengan kalian tidak untuk hal ini. Pantaskah orang yang ingin mengagungkan Baitullah itu tidak boleh datang kepadanya?. Demi Dzat yang jiwa Al-Hulais berada di tanganNya, kalian mengizinkan Muhammad mengunjungi Baitullah atau aku membelot dari kalian bersama orang-orang Ahabisy’. Orang-orang Quraisy berkata kepada Al-Hulais bin Alqamah, Tahan dirimu, hai Al-Hulais, hingga kami bisa mengambil apa yang kami ridhai untuk kami’.”
  • “Kemudian orang-orang Quraisy mengutus Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi untuk pergi kepada Rasulullah. Urwah bin Mas’ud berkata, ‘Hai orang-orang Quraisy, sungguh aku tahu kata-kata kasar dan buruk yang kalian sampaikan kepada orang-orang yang kalian utus untuk menemui Muhammad. Kalian tahu bahwa kalian adalah orang tua sedang aku anak –Urwah adalah anak Subai’ah binti Abdu Syams–. Aku dengar apa yang terjadi pada kalian, mengumpulkan orang-orang dari kaumku yang taat kepadaku, kemudian datang kepada kalian untuk membantu kalian dengan diriku sendiri’. Orang-orang Quraisy berkata, ‘Engkau benar. Engkau bukan orang tertuduh di tempat kami’. Setelah itu, Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berangkat ke tempat Rasulullah. Ketika ia tiba di tempat beliau, ia duduk di depan beliau, kemudian berkata, ‘Hai Muhammad, engkau kumpulkan orang banyak kemudian membawa mereka kepada keluargamu untuk membunuh mereka?.
  • Orang-orang Quraisy telah keluar bersama wanita-wanita dan anak-anak mereka dengan memakai kulit-kulit harimau. Mereka bersumpah tidak akan mengizinkanmu masuk ke tempat mereka untuk selama-lamanya. Demi Allah, dengan mereka, sepertinya kami lihat pengikut kalian akan menyingkir darimu besok pagi’. Abu Bakar Ash-Shiddiq yang duduk di belakang Rasulullah berkata, ‘Isaplah klentit (clitoris) Lata. Apakah kami akan menyingkir dari beliau?’. Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata, ‘Siapa orang ini, hai Muhammad?’. Beliau menjawab, ‘Dia putra Abu Quhafah’. Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata, ‘Demi Allah, jika aku tidak berutang budi padanya, pasti aku balas ucapannya dengan ucapan yang lebih menyakitkan, namun perkataanku ini sudah cukup’. Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berusaha memegang Rasulullah sambil berbicara dengan beliau. Al-Mughirah bin Syu’bah yang berdiri di depan Rasu-lullah dengan memegang pedang memukul tangan Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi yang hendak memegang jenggot Rasulullah, sambil berkata, ‘Tahan tanganmu dari wajah Rasulullah sebelum pedang ini mengenaimu’. Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata, ‘Celakalah engkau, betapa kasarnya engkau!’ Rasulullah tersenyum.
  • Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata kepada beliau, ‘Siapa orang ini, hai Muhammad?’ Beliau men-jawab, ‘Dia anak saudaramu, yaitu Al-Mughirah bin Syu’bah’. Urwah bin Mas’ud berkata, ‘Engkau pengkhianat, aku baru saja membersihkan aibmu kemarin.”*****
  • “Kemudian Rasulullah menjelaskan kepada Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi seperti yang telah beliau jelaskan kepada teman-teman Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi sebelum ini bahwa beliau datang tidak untuk perang. Kemudian Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi beranjak dari tempat Rasulullah dan sebelum itu, ia melihat apa yang diperbuat para sahabat terha-dap beliau; jika beliau berwudhu maka mereka memperebutkan bekas air wudhu beliau, jika beliau meludah maka mereka memperebutkannya, dan jika rambut beliau jatuh maka mereka mengambilnya. Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi pulang kepada orang-orang Quraisy dan berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Quraisy sungguh aku telah mengunjungi Kisra di kerajaannya, Kaisar di kerajaannya, dan An-Najasyi di kerajaannya. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja di rakyatnya seperti Muhammad di sahabat-sahabatnya. Sungguh aku lihat kaum yang tidak akan menyerahkannya kepada sesuatu apa pun untuk selama-lamanya, oleh karena itu, pikirkanlah pendapat kalian’.”
  • Rasulullah memanggil Khirasy bin Umaiyyah Al-Khuzai dan mengutusnya untuk menemui orang-orang Quraisy. Beliau menyerahkan unta beliau yang bernama Ats-Tsa’lab kepada Khirasy bin Umaiyyah dan menyuruhnya menyampaikan pesan beliau kepada tokoh-tokoh Quraisy. Ketika Khirasy bin Umaiyyah tiba di tempat orang-orang Quraisy, mereka menyembelih unta beliau yang dikendarai Khirasy bin Umaiyyah dan juga bermaksud membunuh Khirasy bin Umaiyyah namun dicegah orang-orang ahabisy. Mereka melepas Khirasy bin Umaiyyah hingga ia tiba kembali di tempat Rasulullah SAW”.
  • “Kemudian Rasululla SAW memanggil Umar bin Khaththab untuk diutus ke Makkah guna menyampaikan pesan beliau kepada tokoh-tokoh Quraisy. Umar bin Khaththab berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku takut kepada orang-orang Quraisy atas diriku, sementara di Makkah, tidak ada seorang pun dari Bani Adi bin Ka’ab yang bisa melindungiku. Selain itu, orang-orang Quraisy mengetahui permusuhanku dan kekerasanku terha-dap mereka. Aku tunjukkan kepadamu orang yang lebih mulia di Makkah daripada aku yaitu Utsman bin Affan’. Rasulullah SAW memanggil Utsman bin Affan dan menyuruhnya menemui Abu Sufyan bin Harb dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya serta menjelaskan kepada mereka bahwa baliau datang tidak untuk perang, namun untuk mengunjungi Baitullah dan mengagungkannya’.
  • “Utsman bin Affan berangkat ke Makkah dan bertemu Aban bin Sa’id bin Al-Ash ketika memasuki Makkah atau hendak memasukinya. Aban bin Sa’id Al-Ash membawa Utsman bin Affan di depannya dan melindunginya hingga ia menyampaikan surat Rasulullah. Setelah itu, Utsman bin Affan menemui Abu Sufyan bin Harb dan tokoh-tokoh Quraisy, dan menyampaikan surat Rasulullah SAW kepada mereka. Mereka berkata kepada Utsman bin Affan setelah ia selesai menyampaikan pesan Rasulullah kepada mereka, ‘Jika engkau hendak melakukan thawaf di Baitullah, silakan’. Utsman bin Affan menjawab, ‘Aku tidak akan thawaf hingga Rasulullah yang memulai thawaf”.
  • “Utsman bin Affan ditahan orang-orang Quraisy di tempat mereka, namun informasi yang sampai kepada Rasulullah SAW dan kaum muslimin ialah Utsman bin Affan dibunuh”.

  • CATATAN:
  • * Rasulullah SAW menunjuk Namilah bin Abdillah Al-Laitsi sebagai amir sementara di Madinah
** Hewan sembelihan yang dibawa ketika itu berjumlah tujuh puluh ekor unta. Rombongan yang ikut saat itu berjumlah tujuh ratus orang. Setiap satu ekor unta merupakan kongsi dari sepuluh orang
*** Nama sebuah tempat dekat Makkah
**** Isyarat kepada firman Allah: "Quulu hiththatun" yang artinya, "Ya Allah hapuslah dosa kami".
***** Ibnu Hisyam berkata: "Maksud Urwah adalah bahwasanya Al-Mughirah bin Syu'bah sebelum masuk Islam telah membunuh tiga belas orang Bani Malik dari Tsaqif, maka marahlah orang-orang Bani Tsaqif, khususnya Bani Malik, keluarga korban. Dan Al-Ahlaaf masih satu rumpun keluarga dengan Al-Mughirah, lalu Urwah mengelurkan diyat untuk tiga belas orang korban yang terbunuh itu, maka selesailah permasalahannya.